…mahasiswa…
Chapter I : Mahasiswa Pergerakan X Mahasiswa Hedonisme
Sebenarnya mahasiswa itu apa? Hanya seorang murid dari sebuah perguruan tinggi atau juga agen perubahan?
Kalau menurut saya keduanya benar, karena mahasiswa memiliki peran yang penting dalam sebuah Negara. Baik itu sebagai penerus masa depan maupun agen perubahan.
Sekarang ini ada dua tipe mahasiswa yang paling mencolok. yang pertama mahasiswa hedonisme, yang biasanya hanya memikirkan kesenangan pribadi. Bagi mereka, menjadi mahasiswa sama halnya menjadi seorang murid dari jenjang pendidikan yang lebih tinggi dari SMA. Jadi kebiasaannya masih sama seperti waktu SMA.
Tipe yang kedua adalah mahasiswa pergerakan, yang biasanya ikut diskusi atau aksi yang berkaitan tentang masalah negaranya. Bagi mahasiswa tipe ini, menjadi mahasiswa adalah menjadi seorang siswa perguruan tinggi dan juga sebagai agen perubahan. Jadi mahasiswa tipe ini punya naluri untuk menjadi seorang siswa yang berbeda dari siswa sekolah sebelumnya.
Dari kedua tipe mahasiswa ini biasanya yang lebih diharapkan adalah tipe yang kedua, yaitu mahasiswa pergerakan. Yang memikirkan nasib rakyat.
Chapter II : Menjadi Seorang Mahasiswa Pergerakan
Sejak pertama kali menjajaki dunia perkuliahan, saya memiliki keinginan untuk dapat menjadi seorang mahasiswa pergerakan. Tapi masalahnya, saya tidak menyukai aksi yang biasa dilakukan mahasiswa pergerakan. Terus terang, walaupun saya termasuk dalam badan pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa kampus saya, saya tidak pernah mau ikut bila ada aksi turun ke jalan. Karena saya menganggap aksi itu sebenarnya tidak begitu penting. Hanya akan membuat masalah.
Aksi itu sebenarnya untuk apa? Supaya suara atau pendapat kita didengar? Tapi ada perlu seorang yang berpendidikan melakukan sesuatu yang tidak sepantasnya dilakukan seseoran yang berpendidikan, misalnya vandalisme. Seringkali, dalam aksi yang dilakukan mahasiswa, mereka melakukan tindakan vandalisme. Tindakan yang mereka lakukan biasanya karena sudah terbawa emosi.
Karena saya tidak mau melakukan hal-hal yang menurut saya tidak pantas, maka lebih baik saya menghindari hal tersebut dengan tidak ikut aksi mungkin sudah cukup.
Faktor lain dari seorang mahasiswa pergerakan yang kurang sukai, yaitu kebiasaan “NGOMONG DOANG”. Memang omongan dari seorang mahasiswa memiliki kekuatan yang luar biasa. Tetapi seringkali mereka tidak memberi solusi yang praktis. Bahkan terkadang hanya kritikan saja. Misalnya saja demo untuk menaikkan anggaran pendidikan. Mahasiswa tidak memberikan solusi anggaran apa yang sebaiknya dialokasikan untuk dana pendidikan. Yang saya tekankan disini adalah, sebaiknya bila memberikan solusi, berikan solusi secara rinci. Karena pemerintah tidak hanya menangani masalah itu saja, masih banyak masalah lain yang harus ditangani dan dipikirkan solusinya. Dan fungsi mahasiswa sebagai wakil rakyat adalah membantu pemerintah mencari solusi dari permasalahan tersebut.
