Rangkayo Rasuna Said

Banyak yang tau jalan HR Rasuna Said, di daerah Kuningan, Jakarta Selatan. Yang kalo saya bilang jalannya Bakrie, karena rata-rata gedung perkantoran yang ada disana kebanyakan punya keluarga Bakrie. Tapi tidak banyak yang tahu kisah siapa Rasuna Said sebenarnya. Malahan banyak juga yang baru tahu kalau Rasuna Said itu adalah seorang wanita. Mengapa sampai namanya diabadikan menjadi salah satu nama jalan di Jakarta? Berikut sepenggal kisah tentang Rasuna Said.

Rangkayo Rasuna Said yang biasa dipanggil Kak Una, ialah wanita asli Minangkabau yang lahir pada tahun 1910, lebih tua 10 tahun dari Bung Tomo. Beliau adalah anggota pimpinan Partai Persatuan Muslim Indonesia (PERMI) dan pendiri Sekolah Thawalib di Padang. Pada usianya yang ke-23 beliau dihukum oleh Belanda dan mendekam dalam Penjara khusus perempuan di Semarang dikarenakan pidatonya sangat berapi-api menentang kekuasaan Pemerintah Hindia-Belanda. Untuk membungkamnya pertama Belanda mencoba membujuk Rasuna dengan mengirimkan utusannya Daniel Van Der Muelen, “ Rasuna, Karena perbuatan anda sendiri, anda akan dihukum. Saya akan mengajukan hal-hal yang meringkankan. Usia anda masih muda, anda berbakat pidato, wajah anda elok, tapi semua ini tidak akan mencegah penghukuman. Pakailah waktu anda untuk berpikir mengenai kegagalan-kegagalan anda, usahakan berbuat sesuatu yang baik, jangan kembali ke jalan politik”. Tapi bujukan itu tidak berhasil menggoyahkan hati Rasuna untuk berhenti dari pergerakan nasionalis dan keluar dari PERMI. Akhirnya ia dipenjara.

Rasuna Said dipenjara selama 6 tahun, sehingga akhirnya bebas pada saat Perang Dunia II, karena Hindia-Belanda jatuh ke tangan Jepang. Pada zaman Jepang ia kembali ke kampungnya di Sumatra Barat, dan pada zaman Republik pindah ke Jawa menjadi anggita Badan Pekerja KNIP, kemudian menjadi anggota Parlemen RI, lalu jabatan terakhirnya menjadi Dewan Pertimbangan Agung RI tahun 1959 sampai 1965, tahun saat ia meninggal dunia.

Sumber : Sejarah Kecil Indonesia, Rosihan Anwar. Penerbit Kompas

Ahmad Wahib

Banyak yang sudah tahu tentang Soe Hok Gie, tapi tidak banyak yang tahu tentang Ahmad Wahib. Beliau adalah seorang aktivis juga pada zaman yang sama seperti Soe Hok Gie, yang juga lahir pada tahun 1942, sama-sama menekuni setia catatan harian, memberikan komentar pada segala jenis peristiwa dari filsafat, agama, sampai politik. keduanya mengalami nasib yang sama, yaitu mati muda.

Yang berbeda, Soe Hok Gie lahir dan besar di Jakarta yang merupakan pusat segala kegiatan di Indonesia, sedangkan Ahmad Wahib lahir dan besar di Madura. Perbedaan satu lagi adalah Soe Hok Gie tidak percaya pada agama aapun, sedangkan Ahmad Wahib sangat patuh pada ajaran-ajaran Islam,karena memamng ia dibesarkan di lingkungan santri.

Berikut kutipan-kutipan tulisan Ahmad Wahib :

Semuanya ini membuat aku cemas menghadapi masa depan. Gairah, senang, tapi di lain putus asa, takut, cemas, dan lain-lain. (Ahmad Wahib, Pergolakan Pemikiran Islam, Catatan Harian, penerbit LP3ES, Jakarta 1981)

Dalam kutipan ini, Wahib berfikir bahwa hidup ini serba hitam, tak ada yang benar-benar dapat membuatnya bahagia.

(more…)

  • Panel Admin